Senin, 20 Juni 2011

Bedah Buku Hatinya Tertinggal di Gaza di STAIN Djamil Djambek Bukittinggi: “Tampilan Luar Bukan Jaminan”

Muhammad Subhan (kiri) dan Sastri Bakry (kanan)

Oleh Arbi Syafri Tanjung

Rabu (8/6), Gedung pertemuan rektorat kampus II STAIN Syekh M. Djamil Djambek, Kubang Putih, Bukittinggi tampak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Pagi itu di depan pintu utama gedung rektorat tersebut diramaikan dengan pajangan buku yang disusun rapi di atas meja yang sengaja disediakan sebagai stand buku. Walaupun judul buku sama Hatinya Teringgal di Gaza, tetapi jumlahnya tak dapat dibilang sedikit. Perempuan-perempuan muda berjilbab dan berpakain santun lazimnya gadis minang terpelajar masa kini tampak mendominasi di sekitar gedung. Keramaian itu bukan tak beralasan, maklum saja pagi itu ada hajatan mulia dan sangat berbeda, yang sengaja disiapkan oleh mahasiswa STAIN Bukittinggi asal Pariaman yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Padang Pariaman (IMAPPAR).

Pariaman sebagai satu dari beberapa daerah di Sumatera Barat yang paling besar mengalami dampak peristiwa pahit G 30 S 2009 (meminjam istilah yang diungkapkan oleh ayahanda novelis muda Minang Mardhiyan Novita MZ saat menyampaikan sambutan pada acara peresmian Roemah Boedaja Fadli Zon 4 Juni 2011 lalu--red). Ini istilah untuk menyebut peristiwa Gempa 30 Setember 2009 di Sumatera Barat. Kehilangan harta, rumah, pekerjaan, bahkan nyawa sekalipun telah menempatkan posisi masyarakat Pariaman pada titik nadir yang mengharuskan mereka memulai untuk bangkit kembali dari tumpukkan kelemahan dan kekurangan serta keterbatasan yang dialami.

Acara yang dilangsungkan di lantai tiga rektorat STAIN Bukittinggi itu, seakan menjadi jawaban bahwa ini adalah satu dari banyak cara yang dapat ditempuh untuk mengembalikan dan menormalkan semangat masyarakat Pariaman pada umumnya dan kalangan terpelajar asal daerah itu pada khususnya. Jatuh bukan untuk menyerah. Tapi, jatuh adalah untuk bangun kembali, berdiri dan selanjutnya lari mengejar ketertinggalan dari yang lain. Meskipun ada anggapan bahwa rang Pariaman lebih dikenal sebagai penggalas (pedagang) yang meramaikan sentra-sentra perdagangan di kota besar di Indonesia, seperti di Jakarta-Bandung-Medan-Surabaya dan kota lainnya. Tapi acara kali ini memberi makna dan arti pengecualian dari anggapan itu. Sebab acara ini tidak menghadirkan penggalas ternama dan sukses, tapi mengundang Sastri Bakry rang minang, perempuan Pariaman yang saat ini telah menjadi satu ikon baru perempuan penulis dan penulis perempuan Indonesia. Beliau telah menunjukkan dan membuktikan kepada kita bahwa sastra dapat dipilih sebagai salah satu corong bagi setiap orang untuk menggugat dan berbagi, sekaligus mengubah keadaan yang sedang berlangsung. Meskipun kita tahu bahwa bukan beliau satu-satunya yang berbuat seperti yang dimaksud, tetapi beliau dapatlah menjadi satu contoh lokomotif yang mampu menggerakkan gerbong-gerbong generasi muda perempuan dan rang Piaman di masa berikutnya. Pariaman, terus bangkit dari dunia yang satu ini. Tahun 2011 telah terbit novel Penyair Merah Putih karya Mardhiyan Novita MZ, novelis muda yang juga asal Pariaman, yang baru saja lulus UN di MAN Koto Baru.   

Sebagai tamu khusus yang sengaja di undang Sastri Bakry sekretaris Dewan DPRD Kota Padang yang juga merupakan penulis novel Hatinya Tertinggal di Gaza (kemudian disingkat dengan HTDG) hadir dengan kapasitasnya sebagai penulis. Sebagai pembedah pada kesempatan itu dipercayakan kepada penulis muda asal Aceh-Minang, yang telah melahirkan novel Rinai Kabut Singgalang, novel yang akan cetak ulang. Beliau, Muhammad Subhan, yang kesehariannya bertugas di Rumah Puisi Taufiq Ismail, Aie Angek, Tanah Datar. Selain untuk memenuhi undangan, Muhammad Subhan dan Sastri juga hadir untuk bicara sastra.

Sastranya Sastri adalah sastranya perempuan. Sebelum menunjukkan produktivitas menulisnya lewat HTDG perempuan setengah baya yang tampil menarik ini, telah menelurkan lima buku sastra yang juga bertema perempuan seperti: Perempuan Dalam Perempuan (1995), Sajak Berdua (1996), 26 Penyair Hawa (1997) dan Kekuatan Cinta (2009).

Dengan perempuan ia berkarya, dan dunia perempuan pula yang menjadi ladang perjuangannya. Tulisan dan goresan pena yang ia cipta berbanding lurus dengan sifat asli dan fitrah dari seorang  perempuan, yakni kelembutan dan keindahan. Minang sebagai daerah latar ceritanya, perempuan suku itu pula yang menjadi objek kisah novelnya. Sebenarnya judul novel Hatinya Tertingggal di Gaza adalah satu sub judul dari isi novel tersebut.

Sub judul ini bercerita tentang khayalan Nadhifah, salah satu tokoh dalam cerita, ia berkhayal menjadi seorang relawan ke daerah konflik Timur Tengah di Gaza. Lewat khayalnya ia mempersembahkan bakti tenaganya untuk para saudara sesama muslim yang menderita dan yang terpaksa menerima cerita pahit hidup yang berbalut manisnya sabar yang telah digariskan Tuhan untuk mereka. Hati, pikiran dan kenangan nyata hidupnya terus menyatu dengan kisah dalam khayalannya itu. Kisah khayalannya tak mampu ia singkirkan dari pikirannya, Ia selalu saja merasa seperti yang ada dalam dunia khayal itu.     

Dalam kasak-kusuknya kondisi masyarakat yang sedang berlangsung dan entah sampai kapan akan terus berlangsung. Sastri memberi “air’ penyejuk dahaga bagi Indonesia dan perempuan-perempuan yang menjadi bagiannya bahwa perempuanlah yang paling mengerti masalah perempuan itu sendiri. Perempuan ia urai, perempuan ia tutur, dan ia bentangkan masalah real perempuan lewat lukisan kata-kata indah nan puitis dalam bentuk sastra, dengan harapan semoga setiap yang membaca hasil goresan dan lukisan itu menambah perbendaharaan wawasan akan persoalan perempuan.Tapi, tetap saja akan bermuara pada tindakan bagaimana semestinya memperlakukan seorang perempuan.

Novel yang berjudul asli Gelombang Matahari itu, turut mengisyaratkan kepada setiap perempuan dan pembaca sekalian, bahwa pertimbangkanlah segala sesuatu secara bijak jika ingin mengambil sebuah keputusan, jangan sampai keputusan itu merusak kebahagian orang lain. Apakah hanya karena seseorang adalah ‘orang khusus’ kita dimasa lalu, kemudian kita merasa berhak mengambil kebahagian keluarga yang telah dibentuknya, dengan cara bersedia menikah dengannya karena permintaan dari pasangan resmi hidupnya, seperti yang dimohonkan Nindi Istri sah Ofhik kepada Nadhifah untuk mau menikah dengan Ofhik. Adalah sebagai sebuah kemuliaan bila kita mampu membahagiakan orang lain meski harus memepersembahkan sesuatu yang sangat kita cintai, dan mempercayai bahwa kebaikan dari yang Maha baik adalah hal terbaik.

Sebagai pembedah  novel HTGD Subhan menyatakan bahwa dengan jelas Sastri ‘menitipkan’ dan ‘menumpangkan’ pesan moral berharga bahwa tak selamanya tampilan luar dan style  baik itu, berbanding lurus dengan baiknya  mental dan spiritual seseorang. Ia mencontohkan bagaimana sikap Nadhifah ,salah satu tokoh dalam Novel itu, sosok yang digambarkan pengarangnya sebagai  seorang perempuan saleha, berjilbab, memakai gamis, bersentuhan tangan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya. Dalam tulisan yang bertajuk Menimbang Novel Hatinya Tertinggal di Gaza pada acara tersebut, Subhan juga mengungkapkan bahwa “(maaf) tidak semua perempuan berjilbab itu yang dapat menjaga pakaian muslimahnya secara baik. Pakaian cenderung sebagai simbol, tidak selalu, mewakili hati dan tubuh si pemakainya. Bahkan banyak orang yang menutupi keburukannya dengan pakain yang dipakainya. Realita di alam nyata juga sering kita saksikan dengan mata kepala”.       

Bukankah contoh yang diurai diatas adalah contoh bagaimana lembut dan halusnya nasehat bila  diramu dan diracik lewat sastra baik dengan kata maupun kalimat-kalimatnya.Wajar dan benarlah kiranya ungkapan Arab yang bunyinya “Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu karena sastra membuat hati lembut”. Sebab jika hati lembut, keinginan untuk berbagi selalu ada.

Novel HTGD dan penulisnya yang seorang perempuan telah memberi kabar atau mangabakan bahwa bacaan yang ber-tema-kan perempuan adalah sesuatu gudang makna hidup. Bacaan yang apapun bentuknya, apakah novel, roman, buku ilmiah, penelitian, majalah, surat kabar dan lain sebagainya. Bukan hanya terbatas diperuntukkan bagi perempuan saja. Laki-laki sebagai jender yang berada disebrangnya, tidaklah tertutup untuk ‘menimba’ dan ‘mengais’ makna dari bacaan-bacaan tentang dunia perempuan yang feminim.  

Dalam pribadi Sastri, sastra telah menjadi alat berbagi kepada sesama perempuan dan alat berbagi pula bagi setiap insan yang membaca karyanya.HTDGnya Sastri berbagi kepada kaum hawa, bahwa tak seorangpun istri  didunia ini yang rela suaminya menikah dengan perempuan lain. Cinta yang suci tak mungkin dapat di kotak-kotak dan dibuat bagian-bagiannya seperti membagi kue bolu. Selain itu Sastri juga berbagi kepada setiap laki-laki bahwa ‘izin’ boleh menikah lebih dari satu orang perempuan seperti yang telah dituliskan dalam kitab suci.Hendaknya janganlah dijadikan senjata pembenaran untuk berpoligami atau menikah lagi. Kalam Tuhan bersumber dari ke-Mahabijakan, maka ,ungakapanNYA dalam kitab suci itu merupakan Kebijakan yang tanpa cacat dan kekurangan. Penafsiran manusia saja yang merubah Kemahabijakan itu menjadi sangat dangkal, seperti dangkalnya keinginan manusia untuk terus bersandar dan mendekat pada jalanNYA.  Persoalan ‘izin’ diatas tidaklah sesederhana itu sebab kitab suci juga meneruskan dengan kalimat peringatannya, yaitu ‘jika kamu mampu berbuat adil kepada mereka’

Dengan membedah karya Sastri yang juga mantan Bendahara IMAPPAR Padang semasa beliau kuliah, secara tidak langsung kegiatan bedah buku ini juga membedah bagaimana proses kreatif yang dilakoninya. Ia yang dapat disebut sebagai perempuan-ibu dan sekretaris yang super sibuk. Mampu dan terus saja berkarya, menulis. Menulis persoalan zaman, menulis persoalan kaumnya , sekaligus menuliskan pengalaman bathin para perempuan-perempuan daerah yang dilihat dan diperhatikannya. Bagaimana mungkin ia yang super sibuk bisa menulis dengan status dan peran yang melekat pada dirinya?. Paparan singkatnya tentang ini, ia sampaikan bahwa “modal menulis adalah mau”. Mau menulis apa saja yang berkesan dan terpsikir dalam kesehariannya,baik ketika sidang,ketika di pesawat,ketika ngobrol, atau dalam kondisi lainnya. Pokoknya selalu sediakan media tulis dalam bentuk apapun yang dimiliki dan di pegang saat akan menulis itu”. []

Tulisan ini dimuat di Koran Sekolah Suratkabar Harian RAKYAT SUMBAR UTARA, edisi Sabtu, 18 Juni 2011.

Minggu, 19 Juni 2011

Diskusi Sastra Bersama Siswa Sekolah Menulis dan Training Jurnalistik di STAIN Bukittinggi




Bersama Taufiq Ismail, penyair Indonesia

Dua agenda “tebar virus” menulis saya lakoni seharian Sabtu, 11 Juni 2011. Pertama, di Rumah Puisi Taufiq Ismail Aie Angek, saya kedatangan siswa Sekolah Menulis binaan Alizar Tanjung, cerpenis muda berbakat yang juga mahasiswa IAIN Imam Bonjol Padang. Kedua, saya kembali diundang mampir ke kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Bukittinggi. Kali ini saya memberi materi jurnalistik untuk kawan-kawan pengelola Tabloid “Al Itqan” di kampus itu.

Dua kegiatan itu sudah diagendakan sebelumnya. Secara intensif Alizar Tanjung menelepon saya atas rencananya membawa siswa Sekolah Menulis yang baru ia operasional beberapa bulan di Padang. Walaupun jumlah siswanya tidak banyak tapi saya menilai Alizar Tanjung sudah cukup sukses melakukan pembinaan menulis bagi generasi muda Ranah Minang.

Pagi itu ada sekitar 8 orang siswa menulis yang datang ke Rumah Puisi. Usai beramah tamah saling memperkenalkan diri, saya memberikan sedikit motivasi tentang pentingnya membaca buku dan menulis karangan. Ibarat dua sisi mata uang, membaca dan menulis tidak dapat dipisahkan.

Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan diajukan siswa Sekolah Menulis tentang pentingnya menulis. Ada juga yang bertanya tentang proses kreatif saya mengarang novel Rinai Kabut Singgalang. Dan tak sedikit yang bertanya tentang kiat menembus penerbit dan kiat menerbitkan tulisan di suratkabar.

Diskusi yang dimulai dari pukul 10.00 pagi itu terasa cepat saja terlewati dan tak terasa jarum jam telah menunjukkan pukul 12.30 WIB. Sebagaimana diskusi-diskusi kepenulisan di lain kesempatan yang saya lakukan, banyak siswa yang tak ingin cepat beranjak dari kursi duduk mereka.

Sayang, saya pun tak dapat berlama-lama berdiskusi dengan kawan-kawan Sekolah Menulis itu, sebab saya harus bergegas ke STAIN Bukittinggi. Usai makan dan salat zuhur saya pun berangkat menuju STAIN lalu disambut kawan-kawan di kampus tersebut.

Dalam pelatihan jurnalistik di STAIN itu saya diminta panitia untuk mengulas soal Teknik Wawancara dan Foto Jurnalistik. Pengalaman selama 11 tahun menjadi wartawan di sejumlah suratkabar di Padang, tentu saja kedua materi itu tidak asing bagi saya. Hanya sayangnya di ruangan tidak ada in-focus sementara bahan presentasi saya sudah dibuat dalam bentuk power point. Walau kondisi itu saya maklumi, tapi agaknya peserta tidak cukup nikmat mendapat materi yang sepihak saya sampaikan.

Tetapi untunglah saya dapat menguasai suasana dengan diskusi-diskui dan humor yang menyegarkan. Walau telah siang beranjak sore, agaknya mahasiswa yang hanya berjumlah 15 orang itu tidak ada yang mengantuk. Harapan saya, semoga materi ringkas yang saya sampaikan itu dapat diterapkan dalam mengelola tabloid kampus yang mereka bina.

Dua contoh Tabloid Al Itqan yang saya perhatikan, agaknya belum dikelola secara baik. Hampir seluruh berita ditulis di dalamnya bergaya berita harian sementara tabloid itu sendiri terbit triwulan (3 bulan sekali). Tentu saja semua berita yang terbit di tabloid itu sudah basi. Saya menyarankan agar penulis berita memahami penulisan bergaya feature (baca: ficer) sehingga tulisan dapat bertahan lama. Sebab tulisan feature tetap asyik dan enak dibaca dalam kondisi apapun.

Dilain kesempatan Tim Redaksi Al Itqan berjanji akan membuat pelatihan baru khusus mempelajari Teknik Penulisan Feature yang tentu saja jadwal materinya tidak cukup 2-3 jam, bila perlu seharian. Dan, bila diundang lagi, tentu saja saya dengan senang hati menyatakan kebersediaan memberikan materi itu. []

Rabu, 15 Juni 2011

Rinai Kabut Singgalang Singgahi STAIN Bukittinggi dan STKIP Bangko Jambi

Menandatangani Novel Rinai Kabut Singgalang

Kebahagiaan bagi seorang pengarang adalah ketika karyanya mendapat apresiasi pembaca. Begitupun saya, tak dapat dilukiskan dengan kata-kata ketika mahasiswa STAIN Syekh M. Djamil Djambek Bukittinggi, Rabu 8 Juni 2011 lalu mengundang saya menjadi narasumber dalam kegiatan mereka. Mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Padangpariaman itu, mengangkat acara Bedah Novel “Hatinya Tertinggal di Gaza” karya Novelis Perempuan Sumatera Barat produktif, Sastri Bakry yang juga sahabat saya.

Sebuah kehormatan tentunya saya terima saat itu. Saya yang baru menerbitkan satu novel—Rinai Kabut Singgalang—diberi kesempatan membedah novel Sastri Bakry yang diterbitkan Grasindo, yang sebelumnya Sastri Bakry juga sudah menulis beberapa novel lainnya. Dan, tidaklah tahu saya apa alasan panitia memilih saya sebagai pembedah novel itu—mungkin saja karena saya menulis novel juga. Yang pasti, saya menaruh hormat kepada kawan-kawan mahasiswa STAIN Bukittinggi yang memberikan kepercayaan itu kepada saya.

Kampus II STAIN Bukittinggi di Kubang Putih untuk kedua kalinya saya kunjungi, setelah sebelumnya, tahun lalu, mahasiswa STAIN Bukittinggi juga mengundang saya untuk menjadi pemateri pelatihan Jurnalistik tingkat dasar. Kehadiran saya kali ini, adalah untuk yang kedua kalinya. Kampus di kaki Gunung Merapi itu tampak indah ditingkahi hari yang rancak, tidak hujan tidak pula panas.

Bersama Uni Sastri Bakry dan panitia usai Bedah Novel di STAIN Bukittinggi

Alhamdulillah, acara berlangsung semarak dihadiri seratusan mahasiswa dari berbagai jurusan. Kaum perempuan mendominasi acara itu. Dan, agaknya, tidak hanya di acara-acara bedah buku saja kalangan perempuan dominan hadir, tapi juga diberbagai kegiatan lainnya, semisal di masjid, pasar, seminar, di sekolah, kampus, dan lainnya, kaum perempuan mendominasi. Khusus untuk acara bedah buku itu, pegarangnya, Sastri Bakry adalah juga seorang perempuan. Hendaknya, kondisi itu memicu semangat kaum perempuan lainnya untuk menulis.

Selang beberapa hari kemudian, tepatnya Jumat 10 Juni 2011 sore, saya dan Penyair Sulaiman Juned berangkat menuju Bangko, Provinsi Jambi. Saya diundang mahasiswa Lokal A Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Jambi untuk membedah Novel Rinai Kabut Singgalang. Sebagai pengarangnya tentu saja saya diwajibkan hadir. Pembedahnya sendiri adalah Sulaiman Juned, Penyair yang juga Dosen Jurusan Teater ISI Padangpanjang. Acara ini digagas Wiko Antoni, Dosen Sastra STKIP Bangko lalu disambut baik mahasiswa binaannya.

Saya dan Sulaiman Juned bermalam di rumah Wiko Antoni di Rantau Panjang. Perjalanan dari Padangpanjang ke Rantau Panjang itu, menghabiskan waktu 8 jam. Parahnya, di sepanjang jalan dari Dharmasraya hingga Rantau Panjang, banyak jalan rusak, penuh lobang dan debu yang berpotensi menyebabkan sakit TBC. Untunglah kami naik mobil pribadi yang dirental selama dua hari. Jadi agak sedikit nyaman di dalam kendaraan ber-AC.

Esoknya, pagi yang indah menyambut kami di Kampus STKIP Bangko yang berada di pinggir kota—juga di pinggir hutan belantara Jambi. Dari kejauhan tampaklah di mata saya dua gunung dan perbukitan yang memanjang. Terbit hasrat saya hendak menelusuri belantara lebat itu, mampir di komunitas masyarakat Kubu (Suku Anak Dalam) dan ingin melihat aktivitas mereka. Tapi hasrat itu hanya ada dalam imajinasi saya saja, sebab waktu yang terbatas tidak memungkinkan kami berjalan jauh selain untuk acara yang sudah direncanakan.

Bersama kawan-kawan Komunitas Hijau, STKIP Bangko, Jambi

Di aula kampus STKIP Bangko, seratusan mahasiswa sudah menunggu. Ketua Yayasan STKIP Bangko dan Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia juga hadir. Saya lihat semangat sekali mereka, khususnya panitia yang memenej acara. Ini acara besar. Setelah sambutan ini-itu yang dilakukan secara formal, Bedah Buku dibuka oleh lantunan lagu “Ode Rinai Kabut Singgalang” tembangnya Muhammad Jujur, seniman musik Padangpanjang yang selalu setia menemani saya dalam berbagai kegiatan bedah buku. Saya salut kepada Muhammad Jujur, petikan gitarnya membuai, suaranya khas, dan siapapun yang mendengar takjub.

Pembedah Sulaiman Juned “menguliti” isi Novel Rinai Kabut Singgalang dari berbagai sisi. Sebagai pengarang, saya tidak banyak komentar, cenderung menceritakan proses kreatif saja. Bagi saya, apapun komentar pembaca terhadap isi novel saya itu, sepenuhnya hak pembaca. Saya berprinsip, tugas seorang pengarang adalah mengarang, setelah karyanya terbit dan beredar di tengah masyarakat, khalayak pembacalah yang menjadi hakim. Siapapun yang membaca novel saya itu, merekalah hakimnya. Apapun vonis yang mereka jatuhkan, baik-buruknya, saya terima dengan lapang dada. Dan, dari beberapa kota yang menggelar bedah novel saya itu, saya banyak sekali menerima masukan yang tentu saja sangat berharga buat saya melakukan perbaikan di sana-sini nantinya, pada cetakan kedua.

Bedah novel yang dipandu Wiko Antoni itu, berjalan khitmad. Banyak pertanyaan diajukan peserta. Banyak juga motivasi yang saya berikan bersama Sulaiman Juned, khususnya motivasi menulis. Ada peserta yang mengatakan dirinya tidak berbakat menulis, tapi ada kemauan untuk menulis. Nah, “kemauan” di situ sudah modal besar. Bakat itu pasal 16. Pasal pertama, ya itu, “kemauan”. Bukankah banyak orang yang sebenarnya berbakat tapi tidak mau menulis?

Sulaiman Juned membedah Novel Rinai Kabut Singgalang

Acara berakhir dengan lagu penutup yang dibawakan Muhammad Jujur. Judulnya “Cambuk Berduri”. Muhammad Jujur mengarang 10 lagu terkait Novel Rinai Kabut Singgalang. Kawan-kawan di Padangpanjang yang berkegiatan di Mekahiba Production, tempat Muhammad Jujur beraktivitas, sedang menggarap albumnya. Dibuatkan videoklipnya. Saya bersyukur hidup di tengah kawan-kawan yang kreatif, semuanya memiliki potensi luar biasa. 

Di Bangko, saya dan kawan-kawan berkesempatan juga singgah dan berdiskusi dengan adik-adik di Komunitas Diksi dan Komunitas Hijau, sebuah komunitas seni yang berkegiatan di dunia teater. Diantara mereka sudah menulis meski belum menerbitkan buku. Tapi tak apa, masa depan berkegiatan mereka masih panjang. []

Minggu, 12 Juni 2011

Melodrama Hamka dalam Raun Sebalik


Oleh Ragdi F. Daye*)

Rinai Kabut Singgalang (RKS) karya Muhammad Subhan terbit pada Januari 2011 menyemarakkan dunia sastra Indonesia. Novel ini seperti gabungan antara novel semi­biografis dan novel islami, hanya saja menggunakan gaya bahasa klasik, seperti karya sastra Indonesia paruh pertama abad 20. Novel ini membawa ingatan saya pada gaya tutur roman Siti Nurbaya atau pun Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck; gaya bahasa yang mendayu-dayu seperti puisi dan cenderung menggunakan kalimat inversi—predikat mendahului subjek.


Muhammad Subhan secara tidak langsung telah memberi sinyal bahwa novelnya ini memang sangat terinspirasi—atau terobsesi?—dengan karya-karya Buya Hamka. Di awal buku, kita disuguhkan kutipan buku Hamka, “Seni tidak ada kalau cinta tidak ada. Apa sebabnya ada keindahan? Sebabnya ialah karena adanya cinta. Dengan cinta alam diciptakan. Tiap awal Quran dimulai dengan ‘Bismillahirrahmanirrahim’. Di atas nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Itulah kunci rahasia cinta di alam ini. Timbulnya perasaan halus ialah karena cinta. Segala seni yang tinggi, syair, musik, lukisan, adalah laksana rumus untuk membuktikan adanya Yang Rahman dan Yang Rahim, Sumber Segala Cinta.” Selain itu, buku-buku Hamka berulang-ulang disebut oleh tokoh Fikri dan Yusuf di dalam cerita. Bahkan, judul novel Fikri yang best seller adalah Merantau ke Padang, sangat mirip (judul itu) dengan karangan Hamka, Merantau ke Deli. Kisah hidup Fikri pun mempunyai pertalian erat dengan romantisme Zainuddin dan Hayati.

Novel ini berkisah tentang seorang pemuda bernama Fikri yang keturunan Aceh-Minang (Pasaman). Setelah ayahnya meninggal—tanggal 12 Juli 1995—Fikri pergi merantau ke Padang. Ibunya yang mulai sakit-sakitan tinggal bersama Annisa, adiknya. Sebelum ke Padang, Fikri terlebih dahulu pergi ke kampung ibunya dan bertemu dengan pamannya yang dipasung karena mengalami gangguan jiwa, Mak Safri. Dia cukup betah tinggal di kampung yang terletak di kaki Gunung Talamau itu, hingga kemudian ketidaksenangan sejumlah pemuda setempat membuatnya kembali pada misinya semula: Kuliah di IAIN. Sahabat barunya bernama Yusuf menghadiahinya tiga buah buku karangan Hamka, yaitu Merantau ke Deli, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan Tenggelamnya kapal Van Der Wijck. Sesampai di Padang, Fikri terluka karena membantu seorang gadis yang dicopet. Gadis itu bernama Rahima, putri Bu Aisyah yang pernah satu bus dengannya dari Aceh dulu.

Bersama Pak Ajip Rosidi, Sastrawan Indonesia

Atas bantuan Bu Aisyah, Fikri mendapat orang tua angkat di Teluk Bayur, yakni Pak Usman dan Bu Rohana. Antara Fikri dan Rahima talah tumbuh rasa cinta, namun tidak diungkapkan. Barulah di akhir tahun 2004, ketika tsunami menerjang Aceh, termasuk keluarga Fikri, Rahima berterus terang tentang perasaannya melalui sepucuk surat. Pada waktu itu dia hendak dijodohkan oleh kakaknya, Ningsih, yang tinggal di Jakarta. Fikri pergi ke Aceh sebagai relawan dan bertemu dengan Annisa yang sekarat.

Sekembalinya ke Padang, Fikri melamar Rahima melalui Yusuf yang telah meninggalkan Kajai karena batal menikah. Ningsih menolak, dan Bu Aisyah yang sakit-sakitan karena melihat pertengkaran anak-anaknya meninggal dunia. Rahima pun dibawa kakaknya ke Jakarta dan dinikahkan. Fikri yang patah hati kemudian mengarang novel berjudul Merantau ke Padang. Novel itu menjadi best seller, dicetak ulang, dan Fikri pun terkenal. Setelah kuliahnya selesai, dia pindah ke Bukittinggi untuk meneruskan karir kepengarangannya. Novel terbarunya Ode di Tanah Penantian kembali meledak di pasaran dan difilmkan.

Sementara itu, rumah tangga Rahima mengalami krisis dan berujung pada perceraian. Ketika Fikri ke Jakarta menghadiri pemutaran film Ode di Tanah Penantian Rahima melihatnya. Dia pun gundah gulana dan jatuh sakit. Fikri yang telah balik ke Bukittinggi mendapat surat dari Ningsih yang memohon maaf dan memintanya menengok Rahima. Fikri pun ke Jakarta dan membawa Rahima ke Padang. Namun, pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan ketika mendarat di bandara. Ningsih beserta suami dan anak-anaknya tewas. Fikri yang luka parah meminta Yusuf membawanya ke sebuah rumah impiannya di Koto Baru, Padang Panjang. Sebelum meninggal, dia ‘mewasiatkan’ Yusuf agar menikahi Rahima.

Bersama Ibu Prof Dr Siti Zainon Ismail, Sastrawan Malaysia

Kisah dan gaya bercerita RKS telah mengembalikan kita pada khazanah sastra klasik yang penuh dengan resapan-resapan pelajaran kehidupan, walau ditingkahi duka cita berurai air mata dan adegan yang cenderung melodramatis. Kerinduan para pecinta sastra akan karya yang sedap dibaca dan langsung dapat dipetik hikmahnya, terobati dengan kehadiran novel yang segera dicetak ulang ini.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan sebuah karya sastra disukai pembaca, di antaranya adalah ketika karya tersebut dapat merepresentasikan diri pembaca dengan adanya kedekatan emosi dan mampunya karya tersebut menampilkan gagasan dan harapan terdalam dari diri pembaca. Kebanyakan orang sangat senang merefleksikan diri dengan hal yang diminatinya, termasuk atas karya sastra. Bila bukan karena adanya kesamaan nasib dengan tokoh yang dihidupkan di dalam cerita, biasanya hati pembaca tertambat pada jalinan kisah yang menyerupai hasrat dan impiannya.

RKS berhasil mengaduk-aduk tiga hal yang sangat potensial untuk merebut perhatian pembaca, yakni luka, cinta, dan cita-cita. Para pembaca yang berhati sehalus sutra akan terpiuh-piuh perasaannya membaca getirnya kehidupan Fikri. Kemalangan hidup Fikri begitu memilukan, sementara keberuntungannya yang dapat keluar dari kesulitan hidup dan meraih cita-cita terasa amat mengharukan. Motivasi Fikri yang begitu besar untuk kuliah dapat menggugah pembaca yang suka kisah-kisah inspiratif. Jalan cerita yang linier dan mudah dicerna dirangkai dengan gaya bahasa yang elok dan cenderung puitis membuat novel ini mudah dinikmati siapa pun.

Apabila dicermati, di balik semua kemalangan hidupnya yang mengundang simpati, sosok Fikri ternyata terlalu ‘sempurna’. Kecuali berasal dari keluarga miskin dan orang tua terbuang dari kaum, dia adalah pemuda yang gagah, berakhlak baik, taat dan punya ilmu agama, rajin, lemah lembut, berpikiran maju, serta pintar mengarang sehingga menjadi penulis terkenal. Apa yang dialami Fikri terkesan lempang, begitu lurus tanpa banyak rintangan sehingga sosok Fikri menjadi begitu romantis. Kisah hidup Fikri setelah menjadi pengarang terkenal yang diundang ke mana-mana dan menginap di hotel mewah, serasa dongeng yang kelewat indah.

Bersama Pak Wisran Hadi, Sastrawan asal Minang

Konflik di dalam RKS lebih dominan berupa konflik emosional yang melibatkan relasi antartokoh. Di bagian awal sempat digambarkan konflik budaya (adat) yang melatari kehidupan orang tua Fikri, dan polah tingkah Fikri yang berbudi pekerti baik menunjukkan adatnya sebagai orang berbangsa. Konflik yang lebih komplet dan ruwet nyaris tidak kita temukan. Semuanya berjalan ‘lancar’ tanpa degresi. Barangkali ini dapat dimaklumi karena ‘obsesi Hamka’ tadi. Aneka kemalangan dan kematian yang jatuh mendera Fikri dan tokoh-tokoh di seputar kehidupannya semakin mempertajam konflik emosional di dalam cerita.

Pesona lain yang ditawarkan Rinai Kabut Singgalang adalah keindahan negeri yang menjadi latarnya, yakni Sumatra Barat. Ah, andai Gamawan Fauzi masih menjadi gubernur Sumatra Barat, tentu Bapak Yang Terhormat itu terpaksa menggigit lidah sendiri karena tidak hanya Andrea Hirata yang berhasil mempromosikan kampung halamannya Pulau Belitong lewat Laskar Pelangi, Muhammad Subhan pun mampu berbuat serupa dengan mempromosikan keindahan alam Ranah Minang melalui novelnya ini. Dan, jika instansi kepariwisataan Sumbar cukup kreatif, novel ini bisa juga mendongkrak popularitas Tour de Singkarak seandainya dijadikan sauvenir.

Bagi orang Minang yang tinggal di rantau, RKS dapat menjadi pengobat rindu pada kampung halaman. Lewat perjalanan Fikri, kita ikut dibawa ke tempat-tempat eksotis, seperti Gunung Talamau, Danau Maninjau, Bukittinggi, Padang Panjang, Lembah Anai, Pantai Padang, dan tentu saja daerah antara Gunung Merapi dan Gunung Singgalang. Bagi orang Minang yang tinggal di Sumbar pun, novel ini tentu membanggakan karena memuat tempat-tempat indah yang menjadi ikon keistimewaan negri. Patut juga untuk dilagakkan pada orang luar daerah.

Selain tempat-tempat yang tak terlupakan, RKS juga membawa pembacanya untuk mengenang orang-orang besar dari Sumbar, seperti Buya Hamka yang rumah masa kecilnya disinggahi Fikri di Maninjau dan Bung Hatta sang tokoh proklamator yang rumah kelahirannya dijadikan lokasi peninggalan sejarah di Bukittinggi. Sebagai pembaca, kita seperti diingatkan bahwa ranah ini pernah menyumbangkan orang-orang besar bagi Republik tercinta.

Bersama Pak Suratman Markasan, Sastrawan Singapura


Tak hanya tokoh yang telah meninggal, RKS juga menghadirkan legenda hidup, yakni Taufiq Ismail, penyair gaek yang terkenal dengan sajak-sajak bersahaja penuh makna. Rumah Puisi di Aie Angek, Kabupaten Tanah Datar, tempat penulis RKS beraktivitas juga turut diceritakan. Pikiran iseng saya sempat bertanya-tanya, “Apakah Fikri sempat bertemu dengan Muhammad Subhan seperti Kerim Alakulu bersahabat dengan Orhan Pamuk sang pengarang Snow?”

Alur merupakan unsur yang sangat penting bagi prosa. Cerita yang sederhana dapat menjadi luar biasa ketika dikemas dengan rangkaian peristiwa yang menarik. RKS memakai alur maju yang konvensional. Alur seperti ini sangat berisiko membuat cerita jadi membosankan. Jalan keluar yang paling tepat adalah memberikan kejutan-kejutan sehingga pembaca tetap penasaran dan bersemangat membaca cerita hingga titik terakhir. Pengarang novel ini telah melakukannya dengan memberikan kejutan-kejutan di sejumlah bagian cerita. Kepenasaranan pembaca tentu terpelihara dengan menunggu-nunggu bagaimana akhir kisah cinta Fikri - Rahima.

Sebagai novel, RKS telah digarap dengan baik dan menunjukkan kerja keras pengarangnya. Susah membayangkan bisa merangkum konflik cerita dengan aneka peristiwa faktual, melengkapi dengan kearifan lokal, dan tetap ‘menjual’ pesona wisata. Muhammad Subhan patut diapresiasi sebagai sastrawan yang bersungguh-sungguh!

Namun demikian, ada beberapa hal yang cukup mengganggu ketika saya membaca novel ini. Pertama adalah munculnya peristiwa-peristiwa kebetulan, misalnya ketika Fikri tiba di Kota Padang dan menyaksikan pencopetan atas Rahima. Bagi saya adegan itu sangat tidak natural. Ada kebetulan-kebetulan lain yang mendukung keutuhan cerita namun terasa sekali aspek dramatisnya, seperti ketika Fikri bertemu Annisa yang sudah sekarat akibat tsunami dan Rahima melihat Fikri yang telah terkenal di Jakarta.

Bersama Mustafa Ismail, Cerpenis Nasional, Redaktur Koran Tempo


Masuknya Tragedi Tsunami Aceh 2004 juga terasa dipaksakan agar kegetiran hidup Fikri semakin tak terkatakan. Saya telah menghitung-hitung dan menemukan ada bagian kisah yang hilang—menye­babkan lubang pada alur—yakni rentang kepergian Fikri merantau ke Padang hingga peristiwa tsunami Aceh. Fikri pergi merantau tak lama setelah ayahnya meninggal (tahun 1995), sebelum ke Padang dia singgah di Kajai dan sempat tinggal sebentar. Akhir 1995 atau pada tahun 1996 dia tinggal di Padang dan pada saat itu Rahima masih duduk di madrasah aliyah. Cerita melompat ke tahun 2004, saat rasa cinta Rahima dan Fikri diungkap, artinya delapan tahun kemudian. Waktu delapan tahun tentu tidak sebentar. Namun tidak dijelaskan apa yang terjadi, apakah Fikri telah mulai kuliah dan bagaimana dengan Rahima?

Selain itu, keberuntungan Fikri yang mengarang dan menerbitkan novel hingga menjadi pengarang terkenal juga membuat saya bertanya-tanya, novel seperti apa yang dikarang Fikri sehingga bisa sehebat itu? Apakah tokoh Fikri sedikit terinspirasi dengan kesuksesan Habiburahman el Shirazy, Andrea Hirata, atau Ahmad Fuadi?

Namun sudahlah, namanya juga novel, bukan? Fiksi! Semoga dapat menjadi alternatif bacaan bagi para pelajar, mahasiswa, guru, ibu rumah tangga, petani, pengusaha, penulis lain, wartawan, pejabat, atau koruptor. Setiap pencapaian pasti akan mendapat tempat. Salut untuk Muhammad Subhan!

Penulis Sastrawan, tinggal di Padang, Sumatra Barat

Dimuat di Koran Harian HALUAN edisi Minggu, 12 Juni 2011

Dari Janjang Parabek GUNA Aieketek Mulai Mengalir: “Menegur Kemampuan Tulis Baca”

Di Rumah Puisi, memotivasi guru menulis
Selasa pagi (24/5) suasana di kampus Pondok Pesantren Madrasah Sumatera Thawalib Parabek Bukittinggi tampak berbeda jika dibandingkan dengan situasi hari-hari sebelumnya. Para santri terlihat serius mengamati suasana pesantren, khususnya lingkungan yang ada.

Di berbagai sudut dan kawasan strategis di pesantren tersebut terpajang berbagai tulisan karya para santri. Tulisan itu ditulis santri yang bergabung dalam sebuah komunitas tulis baca. Namanya GUNA Aieketek.

Semua karya yang dipajang itu, sejalan dengan upaya menyemarakkan momentum Hari Kebangkitan Nasional. Khusus di Pesantren Thawalib Parabek sekaligus diluncurkan Komunitas Tulis Baca GUNA Aieketek. Hajatan itu mengusung tema: “Dari Janjang Parabek GUNA Aieketek Mulai Mengalir”.

Rangkaian kegiatan diawali dengan launching komunitas. Acara ini dibuka Pimpinan Yayasan Bidang Pendidikan Syekh Ibrahim Musa, Ir. Susi Zahrawati, MT., didampingi Pimpinan Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek Ustad H. Ilham, Lc, MA, majelis guru dan karyawan Sumatera Thawalib Parabek, serta para santri yang antusias untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Kegiatan diisi dengan Diskusi Bangkik Tulis: Indonesiaku Kapan Engkau Menulis? Menghadirkan pembicara Muhammad Subhan, pengarang Novel Rinai Kabut Singgalang. Pada makalahnya, Muhammad Subhan menyinggung soal menulis, sebuah proses, menyelam kata dan menjaring makna.

Pengarang Novel Rinai Kabut Singgalang ini mengungkapkan, betapa sangat berharga dan mulianya hidup seseorang yang bergelut dengan dunia membaca dan menulis. Tetapi bagaimana pun semua kegiatan butuh proses. Peserta diskusi diajak untuk kembali ingat bahwa banyak ulama yang “jagoan” di atas mimbar, mereka banyak juga yang jago menulis.

Selain diskusi, juga nonton bareng film dokumenter tentang riwayat hidup RM. Tirto Adhisuryo, tokoh yang dalam teks sejarah disebut sebagai Bapak Perintis Pers Indonesia, pemimpin redaksi Medan Priyayi dan Poetri Hindia.

Kemeriahan kegiatan juga diisi dengan pembacaan puisi Kebangkitan Nasional karya anggota Komunitas GUNA Aieketek. Ada 60 puisi yang dibacakan secara bergantian oleh para santri.

Dijadualkan, Minggu (5/6), akan dilakukan pelatihan menulis kepada anggota Komunitas GUNA Aieketek dengan menghadirkan Firdaus, General Manager dan Pemimpin Redaksi Harian Umum Rakyat Sumbar Utara, dengan tema “Kiat menembus media massa”.

*) Penulis adalah Guru di Pondok Pesantren Thawalib Parabek, Bukittinggi

Sumber: Koran Harian Rakyat Sumbar Utara, Edisi Sabtu 4 Juni 2011

Rabu, 08 Juni 2011

Pengarang Rinai Kabut Singgalang Bedah Novel Hatinya Tertinggal di Gaza



Saya posisikan diri saya sebagai seorang perempuan, bukan laki-laki. Lalu orang bertanya, ikhlaskah saya bila suami saya menikah dengan perempuan lain? Bila pun bibir saya terkunci rapat saat itu, hati saya akan menjerit dan menjawab, “tidak!” Siapa yang tega, orang yang dicintai, membagi kasih sayangnya kepada perempuan lain? Benarlah, bila jujur mengatakannya, tidak ada perempuan yang sudi dimadu!

* * *

Mula membaca Novel Hatinya Tertinggal di Gaza (Grasindo, Jakarta, 2011) karya Uni Sastri Bakry ini, saya mengira ceritanya bertema poligami yang sudah umum diperbincangkan dalam novel-novel lainnya. Setelah saya teliti bab perbabnya, hingga semua kisahnya berakhir, ternyata bukan soal poligami. Sebab, tidak ada pernikahan di sana. Tokoh utama, Nadhifah, hingga akhir cerita, tetap dengan status kesendiriannya. Sementara, laki-laki masa lalunya yang meminta agar Nadhifah menikah dengannya, sebagaimana tiba-tiba datangnya, tiba-tiba pula perginya.

Begitupun, awal membaca judul novel ini, Hatinya Tertinggal di Gaza, saya mengira ceritanya berlatar bumi Palestina, atau membahas persoalan derita rakyat Gaza yang dikemas kisah cinta antar tokohnya. Tetapi nyatanya juga tidak. Hatinya Tertinggal di Gaza hanya satu judul bab di dalam novel ini. Derita rakyat Gaza digambarkan pengarangnya hanya dalam 22 paragraf, atau sekitar 5 halaman. Inti keseluruhan ceritanya sendiri tentang “kisah cinta segi tiga”, antara Nadhifah dengan bekas kekasih lamanya, Ofik, dan Nindi, istri Ofik.

Pengarang novel ini, Sastri Bakry, berhasil menciptakan rasa penasaran pembacanya untuk terus mengikuti alur setiap bab hingga titik terakhir buku ini. Kalimat pembuka ceritanya pun mengejutkan dan mengundang rasa penasaran pembaca tentang apa yang akan terjadi pada kisah berikutnya. Simaklah bagaimana piawainya pengarang menulis kalimat pembuka novelnya:

“Aku ingin menikah denganmu,” katanya tanpa ragu. Terdengar berat suaranya. Wajahnya tegang. Ucapannya tak sedikit pun mengandung keraguan. Wajahnya selama ini kelihatan santai, tapi tidak untuk malam ini. Matanya yang bulat memandang tajam ke arah Nadhifah. Ujung jarinya menyentuh ujung jari Nadhifah...

Paragraf pembuka ini sangat menarik. Siapa pun yang membaca ingin tahu bagaimana cerita selanjutnya. Apa yang terjadi pada diri Nadhifah sesudah kata-kata itu diucapkan oleh seorang laki-laki yang pernah hadir di bilik hatinya, walau saat ia berjumpa itu Ofik, lelaki itu, telah menjadi suami perempuan lain. Telah pula beranak cucu. Pembaca juga akan penasaran, akankah Ofik beristrikan Nadhifah yang sudah berkepala empat, tidak muda lagi, dan sejumlah keingintahuan lainnya. Walau sebenarnya tidak lumrah, sosok Nadhifah yang digambarkan pengarangnya seorang perempuan saleha, berjilbab, memakai gamis pula, bersentuhan tangan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya.

Tetapi di titik ini pengarang seolah ingin mengatakan bahwa (maaf) tidak semua perempuan berjilbab itu yang dapat menjaga pakaian muslimahnya secara baik. Pakaian cenderung sebagai simbol, tidak selalu mewakili hati dan tubuh si pemakainya. Bahkan banyak orang yang menutupi keburukannya dengan pakaian yang dipakainya. Dan, realita di alam nyata juga sering kita saksikan dengan mata kepala fenomena demikian. Apa yang difiksikan Sastri Bakry di dalam novelnya itu, tentu saja menjadi i’tibar bagi pembaca. Inilah salah satu pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca.

Seperti yang sudah saya sebut di atas, di era emansipiasi wanita sekarang ini, mustahil rasanya bila ada perempuan yang suka dimadu. Apalagi madunya itu adalah perempuan bekas kekasih suaminya. Tetapi tidak dengan Nindi, istri Ofik yang dinikahinya secara sah, malah menganjurkan suaminya untuk menikahi Nadhifah. Dalam beberapa bagian Nindi berperan meyakinkan hati Ofik untuk menemani Nadhifah ketika ia datang ke Jakarta—yang sekali lagi Nadhifah bukan muhrim Ofik.

Ini juga tidak lumrah. Sebab tidak disebut alasan kuat mengapa Nindi yang juga digambarkan pengarang sebagai sosok istri setia, perhatian kepada suami dan anak-anak, serta menutup auratnya, malah berperan tunggal mendorong Ofik menikahi Nadhifah—meski pernikahan itu sendiri tidak pernah terjadi. Sebagai seorang istri, tidak disebut pula apa kekurangan Nindi sehingga Ofik dapat beralasan menikah lagi (misal, Nindi tidak dapat memberikan anak kepada Ofik, berpenyakitan, atau telah sangat uzur sehingga tidak dapat menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai seorang istri). Ofik pun digambarkan sebagai lelaki sempurna di dalam rumah tangga Nindi, seperti disebutkan dalam paragraf berikut:

“.... Ofik adalah lelaki yang penuh kasih sayang dan penuh perhatian sama istri dan anak-anak, kalau salah seorang dari kita ada yang sakit, biasanya Ofik lah yang paling sibuk mengurusi segala tetek bengeknya, mulai dari yang penting sampai gak terlalu penting. Mengingatkan minum obat; makan yang banyak...” (hal. 34)

Agaknya, hanya alasan Nindi punya “dosa masa lalu” terhadap laki-laki lain yang juga pacar masa remajanya saja sehingga suaminya, Ofik direlakan menikah dengan Nadhifah, bekas kekasih Ofik itu. Sementara Ofik sendiri agaknya tidak punya alasan kuat untuk menikah lagi, kecuali, semata soal “nafsu” belaka hendak mendapatkan kekasih lamanya kembali yang belum juga bersuami. Bayangkan, secara psikologis, seseorang yang pernah jatuh cinta di kala pertama mengenal seorang  gadis, lalu berpisah sekian lama, tiba-tiba berjumpa di lain waktu, tentulah benih-benih kasih sayang itu akan membiak kembali.

Dalam membentuk tokoh, pengarang agaknya belum cukup kuat mencipta tokoh-tokoh yang berkarakter. Nadhifah, Ofik, Nindi, cenderung hadir dalam karakter yang dipaksakan. Nadhifah misalnya, tidak dijelaskan pengarang apa sebab pula ia belum juga berkeluarga hingga sampai di usi kepala empat. Bila Nadhifah seorang perempuan karir, sukses usahanya, dari keluarga baik-baik, aktivis perempuan yang tidak saja berskala lokal, nasional, namun juga internasional, cantik pula, sangatlah mustahil tidak ada laki-laki yang meliriknya. Terasa kurang logis bila sampai usia yang tidak muda lagi itu Nadhifah harus bertemu kembali dengan bekas kekasihnya yang sudah berstatus “kakek”.

Ofik yang sangat “bernafsu’ hendak mendapatkan Nadhifah, berupaya bermacam cara bisa dilakukannya. Dalam satu dialog Ofik mengatakan:

"Kamu lihat rumput ini? Mungkin kamu anggap tak penting karena hanya akan diinjak-injak orang. Tapi rumput ini bisa menghidupi banyak makhluk di bumi.” (hal. 41)

"Kamu dan Nindi seperti rumput bagiku dan anak-anakku. Awalnya yang menyediakan rumput bagi kami hanya Nindi, bayangkan apabila ada tambahan rumput lain di rumah kami. Rumput yang subur. Tidakkah kebahagiaan itu akan bertambah? Kamu mengerti, kan?” (hal. 42)

Tentu saja tidak lumrah memberi perumpaan hadirnya Nadhifah dalam kehidupan Ofik seandainya mereka menikah diibaratkan adanya tambahan rumput segar di rumah Ofik. Dalam kalimat itu pengarang menyebut kata “kami” yang berarti jamak, tidak hanya buat Ofik, tapi juga buat istri, anak, dan cucu Ofik. Tapi di sini pula kepiawaian si pengarang meracik konflik batin antar tokoh ceritanya, sehingga pembaca benar-benar penasaran untuk terus membaca.

Sayangnya, akhir cerita Novel Hatinya Tertinggal di Gaza ini tidak happy ending maupun tragedy ending. Terasa biasa saja. Nadhifah, yang sejak awal bab berperang batinnya antara menerima kehadiran Ofik kembali, di akhir cerita memutuskan untuk membiarkan Ofik pergi tanpa ada kata-kata perpisahan. Lihatlah di ujung bab terakhir ini:

“...Ofik semakin gencar mengajak Nadhifah, mendesak dan membujuk. Nadhifah berulang kali mengucapkan terima kasih dan menolak dengan halus. Mobil Ofik akhirnya bergerak menjauhi Nadhifah.” (hal. 199)

Saat ini ia telah ikhlas melepaskan Ofik dari gantungan hatinya. Hatinya tidak lagi sakit melihat kepergian Ofik. Tubuhnya juga terasa ringan. Ia mengalihkan pandangannya dari mobil Ofik ke ujung jembatan Banda Bekali... (hal. 199)

* * *

Sebagai pengarang perempuan asal Ranah Minang, eksistensi kepengarangan Sastri Bakry telah menjawab persoalan langkanya penulis perempuan di daerah ini. Selama ini penulis laki-laki mendominasi di ranah kesusasteraan Sumatera Barat. Bukan sekarang saja, tetapi sudah sejak dahulunya. Maka, munculnya novel-novel buah pena Sastri Bakry, diantaranya Novel Hatinya Tertinggal di Gaza ini perlu mendapat apresiasi positif berbagai pihak.

Upaya Sastri Bakry menulis novel diharapkan mencipta aura positif bagi kalangan pembaca generasi muda bahwa menulis itu benar-benar gampang. Seorang Sastri Bakry yang sepengetahuan saya sosok “super sibuk” lantaran aktivitasnya sebagai Sekretaris Dewan di DPRD Kota Padang, membuktikan bahwa sesibuk apapun rutinitas masih ada waktu untuk menulis. Siapa sangka, buah dari kesibukan itu melahirkan karya dahsyat ini, yang tentu saja cukup layak dibaca.

Padangpanjang, 8 Juni 2011


MUHAMMAD SUBHAN
Wartawan & Pengarang
Add facebook: rinaikabutsinggalang@yahoo.com

*) Esai ini disampaikan dalam acara Bedah Novel Hatinya Tertinggal di Gaza karya Sastri Bakry, Rabu 8 Juni 2011 di Kampus II STAIN Bukittinggi