Sabtu, 24 Desember 2011

Rinai Kabut Singgalang Diomongkan di I:boekoe Jogja

-->
Oleh Ubaidilah Muchtar

Hari ini sungguh menyenangkan. Sejak matahari belum benar keluar dari tempatnya aku sudah memasuki palataran rumah ini. Ya, di rumah di Jalan Patehan Wetan No. 3 Yogyakarta. Sebenarnya harus kusampaikan bahwa kedatanganku sungguh terlambat. Namun kini aku ingin membagi kisahku ini.

Sehari sebelum kedatanganku ke rumah ini aku masih berada di ibu kota negara. Hari kemarin hari Selasa. Hari Selasa tanggal 24 Mei 2011. Pagi ini aku harus pergi ke Auditorium Ragunan. Ya, orang-orang akan menyebutnya Gelanggang Ragunan. Hari ini kawanku Daurie Bintang punya acara. Acaranya dihadiri sekira tiga ratusan mahasiswa calon guru dan mereka yang sudah menjadi guru.

Sastra untuk Siapa?

-->
Oleh Halim Mubary

Peran media cetak seperti koran dan majalah yang terbit di Aceh, saya pikir memberikan sumbangan yang cukup signifikan bagi perkembangan sastra di Aceh, khususnya prosa dan puisi. Tak dapat dipungkiri, tanpa peran koran yang menyediakan halaman seni dan budaya yang di dalamnya menyediakan rubrik cerpen, puisi, esai, dan resensi buku, mustahil rasanya bisa menjaring banyak penulis muda berbakat. Pun lahirnya sejumlah komunitas seni dan sekolah menulis, juga memberika andil besar dalam mencetak penulis muda. Gemasastrin FKIP Unsyiah juga menjadi miniatur tersendiri dalam menyumbangkan sumber daya sastra di Aceh dalam kurun waktu satu dekade tarakhir.

Namun, perkembangan sastra (prosa dan puisi) yang sempat menjadi booming ketika Aceh berada dalam masa rahab-rekons—di mana sejumlah penulis berhasil mengikat diri dengan sejumlah penerbit buku, sehingga para penulis tidak lagi menyimpan naskah dokumennya hanya dalam flashdisk maupun computer. Kehadiran Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias yang lahir akibat bencana tsunami pada 2005, paling tidak tercatat sebagai penyumbang terbanyak dalam menerbitkan sejumlah buku penulis Aceh berupa novel, antologi puisi, dan cerpen.  

Kamis, 08 Desember 2011

Ketika Kota Padang Terlukis dalam Puisi, Catatan Lomba Cipta Puisi Padang 2011

Dewan Juri dan para pemenang 
Lomba Cipta Puisi Padang saat berkunjung 
ke museum sastra di Melaka, Malaysia.

 Oleh Kurnia Hadinata

dulu sekali, waktu jalan belakang rumah masih belum beraspal
ayah melewati parak rumbio di Taluak Nibuang
melintasi Padang yang penuh Nipah di belakang rumah

Itulah petikan puisi  karya Dodi Prananda dengan judul Menulis Kangen: Padang  yang merupakan salah satu puisi kategori terpuji dalam iven Lomba Cipta Puisi Padang 2011.  Ajang ini diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Don Bosco (IADB) Padang dan telah dihelat semenjak Agustus-September 2011.  Antusias terhadap lomba tersebut ternyata  luar biasa, tidak tanggung-tanggung, sebanyak 511 naskah puisi masuk ke kotak panitia dari penyair-penyair yang tersebar di seluruh Nusantara bahkan ada peserta dari Hongkong, dan negara tetangga Malaysia. Dari jumlah naskah yang masuk tersebut dewan juri terlebih dahulu menyeleksi naskah menjadi 150 naskah dan pada selanjutnya disaring lagi menjadi 70 naskah nominasi dan pada penjurian final terpilihlah sebanyak 3 (tiga) naskah pemenang dan 7 (tujuh) naskah dengan predikat puisi terpuji.   Sebagaimana yang ditetapkan panitia bahwa  puisi yang diajukan dalam lomba tersebut harus bercerita tentang kota Padang dengan segala aspeknya yang dibingkai dengan tema Kado untuk Kota Padangku Tercinta, maka secara langsung puisi-puisi yang muncul dalam lomba tersebut tentu bertema seragam yakni tentang kota Padang.

Jatuh Bangun di Dunia Jurnalistik, Lahirkan Rinai Kabut Singgalang


Padang Panjang (Singgalang) - Tahun 2011 menjadi masa yang paling menyibukkan bagi Muhammad Subhan. Hari ini saja, Sabtu (3/12/2011), dia sedang berada di Malaysia bersama para pemenang Lomba Cipta Puisi Padang 2011. Sudah tiga hari dia berada di negeri jiran itu. Subhan bukan pemenang, dia adalah salah seorang dewan juri pada lomba yang diselenggarakan Ikatan Alumni Don Bosco (IADB) Padang.

Kendati sebelumnya juga kerap jadi narasumber pada berbagai pelatihan jurnalistik, ditambah aktivitas menulis essai, puisi dan karya sastra lainnya, maka sejak novel perdana yang ditulisnya, Rinai Kabut Singgalang (RKS) beredar di pasaran mulai Januari 2011, permintaan untuk tampil di berbagai iven kepenulisan dan kesusastraan pun meluncur deras. Sementara aktivitas rutinnya, sebagai salah seorang pengelola Rumah Puisi Taufiq Ismail di Nagari Aie Angek, Kecamatan X Koto, Tanah Datar, tetap harus dijalani setiap hari.